Perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) diyakini dapat membawa dampak signifikan bagi Indonesia, di antaranya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, alih teknologi, hingga membuka kesempatan baru bagi pengusaha kecil dan menengah.
Perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) diyakini dapat membawa dampak signifikan bagi Indonesia, di antaranya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, alih teknologi, hingga membuka kesempatan baru bagi pengusaha kecil dan menengah.
Perundingan itu telah diluncurkan oleh Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dan Komisioner Perdagangan Uni Eropa Cecilia Malmstrom yang diharapkan dapat selesai dalam waktu dua tahun. Terkait hal ini Kadin Indonesia menyambut baik adanya kemajuan dalam hal kemitraan ekonomi EU-CEPA.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani menyatakan sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia tidak bisa menghindar dari perkembangan perjanjian kerjasama ekonomi dan kompetisi global. Menurutnya, Kadin juga akan aktif memberikan rekomendasi yang didasarkan pada situasi dan ekspektasi dari para pelaku usaha di Indonesia.
Seperti diketahui, peluncuran IEU-CEPA ini merupakan tindak lanjut disepakatinya scoping paper antara Indonesia - Uni Eropa di sela kunjungan Presiden Joko Widodo ke Brussel, Belgia, pada April lalu.
"Saat ini Komisi Uni Eropa telah mendapat mandat dari Dewan Uni Eropa untuk secara resmi memulai negosiasi ini," kata Menteri Perdagangan Thomas Lembong.
Menurutnya, peluncuran perundingan CEPA ini menunjukkan keseriusan kedua pihak untuk memperdalam hubungan strategis di bidang ekonomi di tengah situasi dunia yang tak menentu seperti sekarang ini .
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend menyatakan bahwa perundingan ini tak hanya menyangkut perdagangan barang, melainkan juga jasa. Selain itu, hal-hal seperti ketenagakerjaan, hak cipta dan pengadaan barang pemerintah juga akan masuk dalam pembahasan.
"Ini merupakan perundingan yang cukup ambisius," ujarnya.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai total perdagangan Indonesia dan Uni Eropa tahun lalu mencapai US$ 26,1 miliar. Indonesia mendapat surplus atas ekspor Indonesia ke Benua Biru mencapai US$ 14,8 miliar, sementara impornya hanya US$ 11,3 miliar.
Selain itu, total aliran investasi Uni Eropa ke Indonesia dalam 10 tahun terakhir mencapai US$ 9,8 miliar. Beberapa sektor yang mereka minati adalah konstruksi, transportasi, pangan, perkebunan dan tambang.
Senada dengan Rosan, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Luar Negeri, Shinta Kamdani menyambut baik dimulainya perjanjian ini.
"Kami dari dunia usaha mendukung, sebab komoditas ekspor Indonesia dan Uni Eropa bersifat komplementer, bukan saling bersaing," pungkas dia.
© 2026 Kadin Sumsel. All rights reserved | Designed by @ayahshiva